Sabtu, 12 Maret 2011

The Social Network


Baru malam ini saya beruntung bisa menonton Film Social Network.
and BINGGO..., lagi-lagi David Fincher, sang Sutradara bisa memuaskan saya :D
Jujur, sebenarnya Social Network mungkin adalah karyanya yang paling ringan dari segi konflik. namun, seperti biasa, cara dia membawakan filmnya selalu khas. Plot nya berloncatan, multikonflik dan ditutup dengan ending manis. David Fincher benar-benar seniman sejati. Really Cool Movie.


Saya selalu suka film yang sederhana, namun dengan pernyataan jelas, dan Jujur saya tertarik menonton film ini karena dua hal. Film ini beberapa kali mendapat penghargaan padahal posternya bisa dibilang agak murahan dan sedang ada waktu kosong. Saya yang akhir-akhir ini kuper pun baru sadara bahwa sutradaranya David Fincher setelah menonton filmnya sampai habis. Baru deh, sedikit ngeh , kenapa film ini keren.

Cerita utama film ini, seperti cover filmnya, menceritakan tentang sebuah situs jejaring sosial yang paling fenomenal "Facebook", serta kisah dan konflik dibalik pendiriannya. Mengambil tokoh utama si Mark Zuckenberg yang diperankan Jesse Eisenberg (yang lebih ganteng dari Mark Zuckenberg yang asli), film diawali dengan kencan yang tidak menyenangkan antara si Zuckenberg dengan teman kencannya. Karena kecewa dan mabuk akibat kehilangan teman kencan, Zuckenberg menulis blog yang menjelek-jelekkan teman kencannya tersebut. lalu kemudian punya ide membuat Facesmash, game sederhana yang membandingkan dua foto dan memberi penilaian mana yang paling menarik. Situs yang hanya dibuat beberapa jam tersebut membuat sistem jaringan harvard mati karena traffic yang berlebihan. Disitulah awal mulanya.

Over all, meskipun setting dan tokoh utamanya merupakan karakter nyata. Film ini sama sekali tidak menarasikannya sebagai sebuah biografi. saya justru merasa Facebook dan Zuckenberg lebih dipakai sebagai "latar belakang" atau konteks, untuk menyampaikan sebuah cerita tentang konflik antara pertemanan, bisnis dan kesempatan. Inti filmnya sendiri sudah dinyatakan dalam tag line filmnya.

Wajarlah, akhirnya kalau akhirnya banyak diusulkan dan memenangkan penghargaan. Kelasnya jauh diatas film remaja. Masuk list film berkualitas dan layak jadi referensi. Udah gak konsen nulis, udah ngantuk :p

Sabtu, 15 Januari 2011

Akhirnya Saya berbaikan dengan FiLm


"Pasca lulus, saya memang menonton beberapa film, namun entah kenapa rasanya berbeda, saya seperti kehilangan sesuatu. Saya lupa "caranya" menonton film."




Sudah 4 bulan sejak saya menulis post terakhir. Lucunya, saya bilang di post terakhir bila saya kan mulai nge-post lagi secepatnya.Ternyata, 4 bulan berlalu dan saya belum menulis apapun.Saya sendiri merasa ada sesuatu yang janggal

Sepertinya memang harus curhat sedikit. :D

Okei,
Saya memutuskan tidak menonton film terlebih dahulu sampai skripsi saya selesai dan saya dinyatakan lulus. Waktu itu memang deadline skripsi sedang mepet dan saya tidak mau lagi molor. Akhirnya luluslah sayadengan nilai yang saya harapkan.

Ternyata saya sadar,
sudah hampir dua bulan sejak saya tidak menonton bioskop, bahkan dvd sekalipun. Saya akhirnya menulis di blog bahwa akan mulai menonton film, segera. Tapi ternyata tidak saya penuhi.



Pasca lulus, saya memang menonton beberapa film, namun entah kenapa rasanya berbeda, saya seperti kehilangan sesuatu. Saya lupa "caranya" menonton film.

Saya menonton beberapa film, dan itu seperti iklan tivi yang singgah beberapa saat di pikiran. Sedikit memalukan memang, mengingat skripsi saya yang tentang film, dan saya sendiri kehilangan sense menonton.

Saya seperti kehilangan indera perasa saya terhadap film...

Tidak lagi antusias, tidak lagi menemukan sesuatu. Padahal, dahulu menonton film terasa seperti mencari harta karun, dan sehabis menonton film serasa menemukan harta karun ; Sebuah Sudut Pandang.

Film adalah sebuah "statement" pembuatnya untuk disampaikan kepada kita penontonnya. Film bisa sangat menghibur, sangat lucu, sangat mengharukan, menegangkan atau bahkan menyeramkan. Namun, selalu ada pesan utama yang disampaikan

* Okei, mungkin tidak bisa digeneralisasikan. Dalam beberapa film indonesia, sering sebuah film diproduksi tanpa pesan

Nah,
saya sama sekali tidak aware terhadap si staement. memang sish, tidak harus serius menonton filmsampai harus nemu pesanny segala, tapi saya waktu itu memang sedang kacau. Ribet cari pkerjaan tetap mungkin yah
:p

Finally,
saya meihat megamind, yang membuat saya merasa mendapatkan apa yang saya rasakan dulu. Saya akhirnya mampu "merasakan" film kembali.

Film yang sepertinya marah kepada saya karena saya campakkan, sepertinya memaafkan saya.

Okay, saya benar-benar kembali sekarang.

Thx film,,

Sabtu, 18 September 2010

MASA INKUBASI BERAKHIR

Okeii...
detik ini saya memutuskan masa inkubasi berakhir. saya akan mulai lagi menulis film-film yang sudah saya tonton. Welcome back my "desire to write" :D

Coming Soon...
"resensi-resensi yahud"

Jumat, 22 Januari 2010

Rumah Dara

Hmm, coba ingat-ingat film saw, trus campur adegan pertarungan di kill bill, lalu bayangkan film tersebut diperankan oleh orang indonesia, maka tara....jadilah "Rumah Dara"

Tegangnya hingga menit terakhir, Ini film slasher lokal rasa holywood

Benar-benar Surprisingly BloodyRata Penuh


Sewaktu membeli tiketnya sebenarnya saya memang punya ekspektasi tinggi terhadap film yang kata Jawa Pos sudah rilis terlebih dahulu di luar negeri sebelum premiere diIndonesia . Kebetulan saya juga sudah mengetahui film ini jauh-jauh hari. Sejak melihat adegan pembukaannya saja, saya sudah menduga, film ini akan jadi keren, dan memang terbukti.

Film Rumah Dara sebenarnya adalah Film panjang yang dikembangkan dari film pendek berjudul Dara ( kalo gak salah) yang termasuk salah satu film pendek dalam kompilasi takut ( kalo gak salah ).

Saya pikir “the mo Brother” ( nama beken Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel yang bersaudara hanya gara-gara mereka punya suku kata “mo” di nama mereka ) benar-benar membuat film ini begitu berkelas, ide cerita yang sebenarnya sederhana itu bisa jadi sesuatu yang berkilau di tangan mereka, salut.

Tata artistiknya tidak pernah berhenti membuat decak kagum, akting para pemainnya pantas mendapat standing aplaus, Arifin Putra mendadak keren , kecuali akting bu dara yang menurut saya masih terlalu kaku untuk karakter kaku yang dimainkannya. Yang jelas dua jempol untuk The Mo Brother yang sudah membuat film ini bisa begitu terasa “so real”.

Sebenarnya ada sedikit kritik untuk adegan polisi yang sibuk mencari senjata di mobilnya, dan yang dikeluarkannya senjata laras panjang, hello.., itu senjata laras panjang yang besar dan mobilnya mobil kijang, bagaimana mungkin senjata itu tidak terlihat. Pokoknya gerombolan polisi itu sukses menambah sentuhan komedi di film ini, mungkin memang disiapkan untuk itu, yang jelas polisi terlihat konyol difilm ini, seolah mengatakan :

“ Untuk menghadapi pembunuh keji berdarah dingin sekali dan bertenaga, bahkan polisi tidak bisa menolongmu..”

Hmm kalau boleh saya gambarkan, coba ingat-ingat film saw, trus campur adegan pertarungan di kill bill, lalu bayangkan film tersebut diperanakn oleh orang indonesia, maka tara....jadilah” Rumah dara”

Tegangnya hingga menit terakhir, Ini film slasher lokal rasa holywood

Benar-benar Surprisingly bloody


Jika sudah nonton, kasitau saya, nanti saya akan mengatakan kata-kata yang diucapkan oleh Dara yang sangat “creepy” dan menghantui saya...

“gimana rasanya? Enak kan..?”

Hii...

Seramnya baru terasa setelah melihat filmnya

Jangan lewatkan,The best Indonesian slasher ever made, this year..



Jenis Film : Horror/thriller
Produser : Delon Tio, Fredie Yeo, James Toh
Produksi : Gorylah Pictures, Merah Prod, Guerillas Visuals
Durasi : 95
Pemain : Shareefa Danish, Imelda Therinne, Arifin Putra, Ruli Lubis
Julie Estelle, Ario Bayu , Sigi Wimala , Daniel Mananta

Sutradara : Mo Brothers
Penulis : Mo Brothers

Rating : EMPAT JEMPOL


Senin, 11 Januari 2010

sesudah nonton inglourious basterds




Film apa ini?? darah di sana-sini....( khas tarantino ), dialog-dialognya panjang dan penuh kiasan (khas tarantino ), opening title yang panjang ( tarantino banget ), dan karakter-karakter aneh nan kuat dan alur cerita ber-chapter-chapter ( tarantino sekali...) Film yang terasa Tarantino sekali ini lagi-lagi berhasil membuat saya ingin menjadi tokoh utamanya Letnan Aldo "apache", komandan the Basterd..., entah kenapa semua film Tarantino selalu membuat saya ingin menjadi tokoh utamanya

Yang jelas, film fiksi yang "fiksi sekali" ini waktu itu berhasil membuat para penonton "midnite" yang memenuhi gedung XXI SUTOS tertawa puas dan memberikan aplauss.., sebuah indikator yang cukup untuk mengatakan film ini hebat sekali. Film ini membuat image NAZI jadi "cupu sekali" dan membuat Bradd Pitt yang memerankan Letnan Aldo, jadi superkeren. Film ini juga membuktikan bahwa film perangn jaman Nazi tidak harus megah, penuh tank, penuh spesial efek jaman lawas dan kisah heroik melankolis. Tarantino hanya membawa sekelompok aktor keren yang dipadukan kedalam sebuah kisah unik. saya yakin saking menikmati ceritanya, sebagian penonton tidak akan ada masalah dengan endingnya yang sangat fiksi sekali. Film yang mempertemukan tiga kisah,
  1. Shozzanna, seorang gadis yahudi yang trauma karena melihat anggota keluarganya dibantai oleh tentara Nazi pimpinan Perwira SS Nazi bernama Landa.
  2. Lalu The Basterd, sebuah regu pasukan yahudi amerika pimpinan letnan Aldo yang bertugas menyergap dan membantai setiap tentara Nazi. Mereka tidak pernah membunuh tawanan, seluruh korban mereka dikuliti kulit kepalanya, dan korban yang selamat mendapat kenang-kenangan tanda Swastika Nazi di kening mereka oleh Letnan Aldo yang dijuluki "The Apache". Pasukan ini terdiri dari para tentara Yahudi yang memiliki dendam terhadap Nazi
  3. Landa,karakter ini yang paling aneh, perwira SS kejam yang penuh ambisi dan licik namun cerdas


Sebenarnya ada beberapa tokoh lagi yang penting seperti seorang prajurit Nazi yang jatuh Cinta terhadap Shozanna dan beberapa anggota The Basterd yang perannya besar untuk keseluruhan cerita film, tapi sayang sekali, anda harus menontonnya sendiri untuk membuktikan apa yang saya katakan. yang jelas jangan membawa naka-anak dibawah umur karena banyak sekali darah. Aneh sekali film, yang mengumbar cipratan darah dan gambar seram ini, masih terasa berkelas untuk dinikmati tidak seringan Kill Bill, namun tidak seberat Pulp Fiction menurut saya Tarantino mencoba mengatakan pendapatnya, lewat kalimat penutup film yang diucapkan Letnan Aldo "Aku pikir, ini karya terbaikku" hehe, berlebihan mungkin.., tapi buktikan sendiri selamat menonton

Directed by Quentin Tarantino
Produced by Lawrence Bender
Written by Quentin Tarantino
Starring Brad Pitt
Christoph Waltz
Michael Fassbender
Eli Roth
Diane Krüger
Daniel Brühl
Til Schweiger
Mélanie Laurent
Cinematography Robert Richardson
Editing by Sally Menke
Studio A Band Apart
Zehnte Babelsberg
Distributed by The Weinstein Company
Universal Studios
Release date(s) May 20, 2009 (2009-05-20)
(Cannes)
02009-08-20 August 20, 2009 (Germany)
02009-08-21 August 21, 2009
(United States)
Running time 152 minutes
Country United States
Germany
Language English
French
German
Italian

Jempol :

dua jempol tangan plus dua jempol kaki, atao mungkin kalau saya berubah jadi gendut dan semua jari saya mirip jempol semua, saya kan memberikan seluruh jari tangan kanan saya, jadi sama dengan lima jempol

Jumat, 08 Januari 2010

sebelum nonton inglorious basterds

akhirnya ada juga di bioskop....!!

meskipun belum premiere dan kami harus begadangan menonton ini karena baru midnite

Tapi kami rela......

saya dan mas iman sudah berminat menonton film ini sejak keluar berita tentang film ini.

posternya provokativ

ada Bradpittnya juga

saya tidak tahu mas iman ingin menonton film ini karena apa, tapi saya sendiri tertarik karena nama Quentin Tarantin

entahlah, Om Quentin selalu bisa membuat filmnya terasa keren

saya selalu ingin menjadi tokoh utamanya setelah filmnya selesai, tapi saya belum melihat Inglorious Basterds, nanti malam dan kita lihat saja apakah saya ingin menjadi Brad Pitt

Kamis, 17 Desember 2009

Sang Pemimpi




"...Entahlah, saat melihat film ini saya seperti membayangkan memakan makanan pembuka. Menarik, aromanya enak, menggoda untuk dimakan tapi tidak mengenyangkan. Bahkan ketika film ini selesai, pasti banyak penonton yang bertanya dikepalanya ( loh, udah ), beda sekali dengan closing manis dan tidak terlupakan di film Laskar pelangi..., satu lagi.., saya sebenarnya ragu dengan tokoh Arai dewasa (Ariel peterpan), sebelum menonton film ini saya ragu apakah dia bisa berakting, setelah menonton akhirnya saya benar-benar yakin dia tidak bisa berakting. ."


Oh Sang Pemimpi, Akhirnya saya melihatnya juga,

Sang pemimpi disebut-sebut film paling dinanti desember ini. Akhir-akhir ini memang banyak film yang bertajuk “paling dinanti”, ketika cinta bertasbih yang heboh itu juga berjuluk “paling dinanti”, sayang saya belum pernah menonton KCB ( ini singkatan gaulnya KCB, bagi yang belum tau).

Yang jelas kedua film memiliki persamaan,

Yang pertama , keduanya merupakan versi film dari novel yang sudah laris luar biasa kayak kacang goreng

Eh, karena kacang goreng sudah tidak laku saya ralat

Yang pertama , keduanya merupakan versi film dari novel yang sudah laris luar biasa kayak formulir SNM-PTN

Yang kedua, film-film bertajuk “paling dinanti” itu punya promo yang heboh pula, muncul di billboard-billboard gede-gede di kota-kota besar,dan tiketnya bahkan bisa dipesan hingga empat hari kedepan, bahkan bisa dipesan sebelum hari premiernya.

Dan ketiga, film-film itu dibuat berseri

Saya sendiri sebenarnya tidak alergi dengan film indonesia yang laris. Beberapa film laris ternyata masih mampu membuat saya autis tak bergeming di kursi bioskop menikmati filmnya. Tentu saja bukan film laris semacam “hantu-hantuan” ato film “bukak-bukaan” , menonton film itu dibioskop akan menyebabkan kemaluan ( maaf) , maksudnya maluu, anda akan merasa kotor melihat film hantu-hantuan atau bukak-bukaan, atau kombinasi keduanya (masyallah).kecuali film horor tertentu yang asik, tapi film bukak-bukaan belum ada yang bikin autis, slalu bikin merinding

Kembali ke Sang pemimpi,

Kabarnya film ini sekuel dari film laskar pelangi yang terkenal itu ,tapi seperti yang terdapat pada novelnya, yang diteruskan ceritanya hanya cerita tokoh utama dan keluarganya, sementara karakter lain di cerita pertama memang tidak diteruskan ceritanya, kecuali lintang, sahabat ikal pada laskar pelangi yang namanya sempat disebut di sang pemimpi.

Film “The Dreamer” (bahasa inggrisnya Sang Pemimpi, bener gak sih) , menceritakan tentang Ikal ( Lukman Sardi), Arai ( ) dan Jimbron() yang merupakan sahabat sejak kecil yang punya mimpi dan mereka bertiga berusaha keras meraih mimpi mereka, Ikal bermimpi ke Paris untuk berkuliah disana, Arai yang mengusulkan mimpi ke Paris juga mempunai mimpi lain, yaitu memikat hati pujaan hatinya Zakia Nurmala, sementara Jimbron punya mimpi melihat kuda serta membuat pujaan hatinya, Laksmi tersenyum . Kebanyakan penonton bioskopnya mungkin pembaca novelnya ( seperti saya ) dan mungkin kebanyakan dari mereka juga sudah tau ceritanya ( seperti saya), lalu mungkin mereka menonton filmnya karena penasaran seperti apa dunia novel tersebut di mata sutradaranya Riri Riza ( seperti saya ).

Beberapa mungkin kecewa karena penggambaran film dan jalan ceritanya sedikit berbeda dengan novelnya ( tidak seperti saya ). Film dan novel memang berbeda, novel merupakan imajinasi penulisnya dan setiap pembaca bisa berimajinasi sesuka hati, tetapi film adalah imajinasi sutradara yang digambarkan, jadi penonton hanya melihat imajinasi sutradara yang mungkin, ternyata berbeda dengan bayangan penonton ketika membaca novel.

Saya harus memberi apresiasi karena kualitas sutradaranya memang tidak berubah, dia berhasil membuat film “mahal” ini tervisualisasikan dengan baik dan memang terasa berkelas. Gambar-gambar detil itu berhasil membius dan karakter-karakter melayu lugu khas laskar pelangi berhasil tergambarkan dengan baik lewat akting aktor-aktor yang baru pertama kali main film itu ( kecuali Lukman Sardi, Mathias Mucus,Rieke Diah Pitaloka, dan sisanya saya gak apal). Plot yang dibawakan juga asik, cerita diawali kekecewaan Ikal karena Arai menghilang, lalu flashback ketika mereka masih SMA, selanjutnya cerita mengalir dengan tempo asik menceritakan bagaimana mereka saling bertemu dan berpetualang bersama. Yang jelas saya harus kagum dengan karakter-karakter tokohnya yang kuat itu.

Tapiii,

Ada yang kurang disini,,

Entahlah, saat melihat film ini saya seperti membayangkan memakan makanan pembuka. Menarik, aromanya enak, menggoda untuk dimakan tapi tidak mengenyangkan. Bahkan ketika film ini selesai, pasti banyak penonton yang bertanya dikepalanya ( loh, udah ), beda sekali dengan closing manis dan tidak terlupakan di film Laskar pelangi..., satu lagi.., saya sebenarnya ragu dengan tokoh Arai dewasa (Ariel peterpan), sebelum menonton film ini saya ragu apakah dia bisa berakting, setelah menonton akhirnya saya benar-benar yakin dia tidak bisa berakting. Sumpah, karakter Arai muda jadi sia-sia ketika Arai dewasa diperankan oleh Ariel. Hmm, semoga kualitas aktingnya membaik ketika film ketiga keluar

Saya masih positif thinking,

Waktu melihat The Lord of The Ring juga film keduanya kurang greng, tapi film penutupnya ciamik. Saya harap ini juga berlaku untuk Tetralogi Laskar pelangi.

Empat jempol punya saya, dua jempol tangan dan dua jempol kaki yang saya siapkan untuk film ini berkurang hanya dua jempol saja. Untuk tata artistik yang memang jempolan, dan untuk karakternya yang dikerjakan dengan super serius.

Semoga jempol saya bertambah di film mereka selanjutnya,dinanti...apakah makanan utamanya seenak makanan pembukanya.Yang jelas saya suka salah satu quote nya .


“Yang penting bukan seberapa besar mimpi kamu, tapi seberapa besar kamu untuk mimpi itu”


Produser : Mira Lesmana

Produksi : Miles Film

Durasi : 120 menit

Pemain : Lukman Sardi, Mathias Muchus, Nugie, Landung Simatupang, Rieke Diah Pitaloka, Yayu Unru, Vikri Septiawan, Rendy Ahmad, Azwir Fitrianto, Jay Wijayanto, Nazril I

Sutradara : Riri Riza

Penulis : Salman Alristo, Riri Riza, Mira Lesmana


Rating :



Jumat, 11 Desember 2009

mereka bilang saya monyet



"Beberapa adegan ranjang juga mewarnai film ini. Namun tanpa disangka, sebuah dialog paling bagus menurut saya justru dilakukan saat Ajeng dan Asmoro kekasihnya yang juga penulis berada di atas ranjang dan akan melakukan seusuatu tindakan maksiat ( masyallah )"



Nonton film ini punya efek seperti minum susu sebelum tidur. Pertama kali saya menontonnya, saya hanya bertahan lima menit sebelum akhirnya terlelap. Percobaan kedua berhasil melampaui menit ke sepuluh tapi tetap tertidur sebelum film usai. Nah, pada percobaan ketiga ( setting: pagi-pagi, baru mandi dan sarapan ) akhirnya saya menyelesaikan menonton film ini kemudian meresensinya untuk keperluan insight. Sepertinya sang sutradara yang juga merupakan seorang penulis terkenal (Djenar Mahesa Ayu) masih menggunakan gaya menulisnya untuk membuat film, sehingga menonton filmnya berasa membaca cerpen, banyak metafor dan kiasan sehingga kita dipaksa untuk menyimak baik-baik tiap adegan dan narasi yang dibawakan tokoh utamanya. Akibatnya ya itu tadi, melihat film ini sendirian pada jam tidur ber-efek seperti minum susu sebelum tidur, kita akan cepat sekali terlelap sebelum paham film ini bercerita tentang apa. Hoaah....

Tapi setelah saya menontonnya sampai akhir, film ini sebenarnya punya maksud yang terpuji. Temanya memang klise, namun sangat cocok bagi teman-teman psikologi untuk dikaji. Film ini menceritakan tentang Ajeng, seorang penulis muda yang gaul dan memiliki ketergantungan terhadap rokok dan alkohol, namun di depan ibunya Ajeng adalah seorang anak perempuan yang penurut. Rupanya latar belakang pengasuhannya yang membuat Ajeng jadi seperti itu. Kejadian-kejadian traumatis selama anak-anak serta pengaruh ibunya sebagai objek modeling baginya telah mempengaruhi pribadinya hingga saat dia dewasa dan menuangkan pengalamannya ke dalam sebuah cerpen yang ditulisnya.

Menarik sekali memang, tapi kembali saya sarankan kepada teman-teman untuk tidak menontonnya sendirian, terutama saat jam tidur. Sebenarnya ada satu faktor lagi yang membuat saya akhirnya betah menontonnya sampai akhir. Kostum para pemain cewek hanya berkutat pada tipe pakaian seperti tank top, kemben, sampai kostum tidur cewek yang aduhai, benar-benar memanjakan mata laki-laki ( masyallah ). Beberapa adegan ranjang juga mewarnai film ini. Namun tanpa disangka, sebuah dialog paling bagus menurut saya justru dilakukan saat Ajeng dan Asmoro kekasihnya yang juga penulis berada di atas ranjang dan akan melakukan seusuatu tindakan maksiat ( masyallah ), dialog ini cukup cerdas dan mengena, sebuah kritik tentang kondisi perempuan Indonesia yang lemah dan tanpa perlindungan. Saya akui beberapa dialog dalam film ini memang cukup lugas dan cerdas ( dikatakan tanpa paksaan ).

Pada akhirnya, film ini memang layak tonton, terutama jika dibandingkan film-film yang baru-baru ini yang berjudul masuka masukin aja, tali pocong perjaka, ato pocong vs high heels, film ini jelas lebih berkelas, bermanfaat, serta lebih banyak bagian untuk dikaji secara psikologis. Pendapat saya ini juga didukung prestasi terakhir film ini yang berhasil memperoleh beberapa kategori dalam festifal film bandung beberapa waktu lalu.Apa? Anda tidak percaya semua ulasan ini?ya sudah silakan ke persewaan dan tonton filmnya, lalu anda akan menyadari kebenaran pernyataan saya ( terutama bagian tanktop dan baju tidur seksi ).

Judul : Mereka Bilang Saya Monyet
Produksi : Intimasi Production
Produser : Djenar Mahesa Ayu
Sutradara : Djenar Mahesa Ayu
Penulis : Djenar Mahesa Ayu, Reza herlambang
Pemain : Titi Sjuman, Henidar Amroe, Bucek, Ray Sahetapi,
Rating : saya beri satujempol indah nobo